Kenali Senyum dan Tawa Palsu

tawa

Orang tertawa atau tersenyum secara hakikatnya merupakan pengungkapan perasaan gembira, senang, atau suka akan sesuatu hal. Namun sebab manusia adalah makhluk sosial yang berinteraksi satu sama lain, akhirnya senyum dan tawa tersebut dimanfaatkan dalam pergaulan.

Kadang kala seseorang tertawa pada obrolan lawan bicaranya sebab hanya ingin menghargai saja. Tawa tersebut tidak “renyah” dan hanya permainan mimik wajah. Bahkan, agar orang yang diajak bicara tidak sakit hati, ekspresi  senyum dan tawa palsu pun dibuat agar seperti benar-benar tulus diberikan.

Anda juga pernah mengalaminya, bukan? :)

Tahukah Anda? Sebenarnya ketika seseorang tertawa/tersenyum tulus atau tertawa/tersenyum palsu itu bisa dirasakan oleh orang lain. Secara ilmiah, ternyata antara tertawa tulus dan tertawa palsu ini digerakkan oleh dua daerah otak yang berbeda. Sehingga, pasti ada “sesuatu” yang berbeda dalam merasakan kedua tawa/senyum itu.

Profesor ilmu saraf kognitif di University College London, Sophie Scott, memaparkan hasil penelitiannya, bahwa para relawan yang mengikuti studi ini diperdengarkan ekspresi jijik, tertawa sesungguhnya, dan tertawa yang palsu. Mereka lalu dipindai kerja otaknya memakai alat MRI. Hasilnya:

  • tertawa palsu itu digerakkan oleh daerah otak yang bernama korteks prefrontal medial. Bagian ini sering dipakai untuk berpikir dalam mencari pemecahan suatu masalah. Misalnya, seseorang ingin tahu alasan seseorang berbuat sesuatu, analisanya dilakukan di daerah otak ini.
  • sedangkan  jika seseorang tertawa dengan sebenarnya, daerah otak yang bekerja adalah area pendengaran di lobus temporal. Di daerah otak ini biasanya menjadi tempat memroses semua aktivitas suara.

Menurut para ahli ada empat macam sebab orang tertawa/tersenyum, yaitu:

  1. Tertawa karena rasa atau reaksi fisik, misalnya orang yang digelitik ketiak atau tubuhnya sehingga kegelian dan orang itu tertawa.
  2. Tertawa atau tersenyum lega setelah saat yang menegangkan lewat.
  3. Tertawa atau tersenyum karena rangsangan yang membawa kegembiraan, misalnya karena gurauan atau permainan.
  4. “Senyum palsu” atau ‘tertawa formil”, biasa dilakukan disaat kita berinteraksi dengan masyarakat atau orang lain, yang mana bermaksud untuk menghargai si lawan bicaranya atau supaya tidak membuat teman bicaranya itu kecewa.

Ladies, senyum itu ibadah sederhana. Jika Anda banyak tersenyum, sama sekali tidak ada ruginya. Orang yang mendapati senyum Anda akan merasa senang.

Bukankah ketika Anda mendapat senyum dari orang lain, perasaan Anda juga senang dan merasa dihargai? :)

Tips Cantik Lainnya

Masukkan komentarmu

Alamat email kamu nggak akan dipublikasikan.Wajib diisi

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation