Perlukah Perjanjian Pra-Kelahiran?

mengasuh bayi

Memiliki buah hati adalah salah satu saat yang membahagiakan bagi para pasangan. Hadirnya seorang bayi seringkali mengubah kehidupan sebuah rumah tangga. Perubahan tersebut dapat berupa perubahan yang diharapkan dan dapat pula merupakan perubahan yang tidak diharapkan yang jika dibiarkan begitu saja dapat mengganggu hubungan antara suami istri.

Perjanjian pra-kelahiran atau pre-nappy agreement merupakan kesepakatan bagi calon ayah bunda yang dibicarakan bersama dan berkaitan dengan pengasuhan bayi kelak setelah lahir. Setidaknya ada 6 alasan mengapa orangtua butuh perjanjian pra-kelahiran seperti yang dilansir oleh AyahBunda:

1. Karena tidak bisa membaca pikiran orang lain
Masalah terjadi ketika adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Seringkali masalah muncul hanya karena apa yang diharapkan istri tidak dilakukan oleh suami, begitu juga dengan sebaliknya. Padahal meskipun berhubungan dekat, jelas pasangan kita bukan Edward Cullen yang bisa membaca pikiran atau tahu apa yang kita mau tanpa kita harus bicara dengannya. Nah di situlah peran dari pre-nappy agreement dimana calon ayah dan bunda harus mendiskusikan tentang bayi sebagai “proyek bersama berdua” sehingga masing-masing pasangan tahu apa yang diharapkan dan apa yang dilakukan. Contohnya, suami sepakat akan mengurus bayi full pada hari minggu agar istri bisa beristirahat. Kendati pelaksanaannya tidak seketat itu, setidaknya pasangan akan tahu bahwa istri juga butuh istirahat dan turut punya andil dalam pengasuhan bayi sehingga istri pun bisa menghargai kebaikan suami.

2. Karena uang bisa menjadi masalah
Kehadiran buah hati jelas membutuhkan biaya besar dan pasangan harus mendiskusikan hal tersebut demi tercukupinya kebutuhan bayi tanpa harus menimbulkan pertengkaran. Ada kalanya ada pengeluaran tersier yang harus dikurangi untuk kebutuhan bayi dan pasangan harus mempunyai prioritas untuk hal tersebut tanpa harus saling menggerutu.

3. Karena hidup “tampak tidak adil”
Ketika sedang merasa lelah karena mengurus bayi, kadangkala perempuan akan berpikir bahwa laki-laki lebih enak hidupnya. Tanpa mengecilkan peran suami sebagai pencari nafkah yang utama, masalah ‘tampak tidak adil’ itu harus dibicarakan sebelumnya agar kesalahpahaman tidak gampang muncul. Jangan sampai ketika istri sedang sibuk begadang karena si kecil rewel, suami malah tidur mendengkur. Kondisi tersebut bisa membuat istri rapuh karena merasa tidak didukung.

4. Karena pria tidak merasakan lelahnya nifas dan menyusui
Pertanyaan suami yang paling menjengkelkan bagi para istri yang sedang nifas dan menyusui adalah “seharian ini kamu ngapain aja? kok capek melulu?” Belum lagi jika suami protes karena rumah berantakan belum sempat dibereskan. Menurut Dr. Sandra Wheatley, psikolog dari AS, kebanyakan suami menganggap kerja bayi hanya tidur dan menyusui itu mudah tanpa mengerti bahwa itu semua menyita energi. Untuk itu, diskusikan bersama bahwa pasangan perlu menurunkan ekspektasinya ketika ada bayi. Misalnya jika selama ini makan harus dilayani istri dan istri harus memasak, ketika bayi lahir cobalah untuk “mengalah” dengan mau makan masakan asisten rumah tangga.

5. Karena wanita belum siap untuk seks
Meskipun secara medis fisik wanita sudah siap dalam enam minggu pasca persalinan, pada kenyataannya secara psikis istri butuh waktu lebih lama untuk pulih. Diskusikan masalah tersebut dengan pasangan agar pasangan bisa lebih mengerti.

6. Meminimalkan situasi emosional ke titik minimum
Hanya sedikit istri yang tidak emosional ketika harus bangun, begadang, dada nyut-nyutan, merasa lelah, bayi menangis dan suami malah tidur mendengkur. Rasa lelah sering memicu emosional, namun jika sebelumnya sudah didiskusikan maka diharapkan dapat meminimalkan situasi emosional.

Tips Cantik Lainnya

Ada 1 komentar untuk artikel “Perlukah Perjanjian Pra-Kelahiran?

  1. Pingback: Hal-Hal Yang Sebaiknya Tidak Dilakukan Oleh Ibu Baru | Sahabat Wanita Cerdas

Masukkan komentarmu

Alamat email kamu nggak akan dipublikasikan.Wajib diisi

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Post Navigation