Suka Duka Komunikasi #Day10

day10level1

Alhamdulillahirobbil’alamin, pada akhirnya menyelesaikan game level satu Bunda Sayang, 10 hari tantangan komunikasi produktif. Rasanya happy bangett! meski bukan melodrama, tapi selalu saja, perjuangan adalah hal yang menyenangkan… 😀

Selalu ada kisah saat malam hari, baik kisah yang dibacakan maupun kisah yang kami buat. Kisah kami dimulai sepanjang hari ini luar biasa mengalami sedikit kelelahan. Saya bertiga sama ibu mertua dan anak (2.9th) menjemput anak laki laki saya (8.5th) yang sudah berusaha 5 hari menginap tanpa keluhan untuk mengikuti acara English Camp, ditengah terik matahari dibulan Ramadhan, saya sempatkan pulangnya mampir sekalian jalan membeli drigen sebanyak 110 masuk mobil sebesar avanza.sesak? jelas iyaa, hehe.

Untungnya muat, dan tentu saja anak saya S tidak protes malah menawarkan membantu meletakkan dan mengatur drigen di tengah mobil, jadilah kiri kanannya drigen :’) –begitulah etos kerja, sesuatu yang perlu saya contohkan untuk anak anak. Meski bisa saja saya menyuruh orang untuk membelinya, tapi karena memuat nilai belajar bersama anak saya upayakan mengerjakannya sendiri.. Alhamdulillah diberi kekuatan.

Dimobil saya mencoba membuka obrolan meski anak saya terlihat lelah..

“Senang nak ikut English camp? Apa aja yang menyenangkan dan ga enaknya?”

“ya enak, tapi ada ga enaknya juga mi,  aku jadi ingin belajar gitar dan drum”

(lah dari english ke musik ki pie batinku, hehe, saya memaklumi belum banyak cerita yang ingin dikatakannya), baiklah agenda kegiatan berikutnya yang perlu dicoba anak mbarep adalah mencoba music yang selanjutnya akan didampingi ayahnya yang dulu semasa remajanya pernah ikut band band-an.

“Terus ga enaknya dimana?”, lanjutku.

“Hari terakhir aku tidurnya dibawah, temen-temenku diatas”, ungkapnya terlihat sedih. Aku yang urutan bakatnya memiliki sifat bakat empati mulai merasakan kesedihannya. Kalu sudah begini kata kata yang seharusnya keluar untuk reframing  dengan mengatakan -ohya ga papa kan malah luas to-, ga bisa terungkapkan, terungkapnya saat malam menjelang tidur…

Saat malam hari setelah sholat dan ritual gosok gigi, saya pun membersihkan tempat tidur –salah satu sunnah yang saya terapkan ke anak-anak dan terlisankan yaitu sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila seorang dari kamu akan tidur pada tempat tidurnya, maka hendaklah mengibaskan kainnya pada tempat tidurnya itu terlebih dahulu, karena ia tidak tahu apa yang ada di atasnya…”. Pada hadist lain disebutkan kibasannya tiga kali (HR. Bukhari dan Muslim)-

Saya pun mendampingi anak yang pertama (mbarep) , mendengar cerita nya selama English camp, mulailah cerita cerita, tidak lama kemudian saya dilempar botol minyak kayu putih sama anak saya yang kedua, dan dia mulai menyabet mas-nya dengan kabel hp, botolnya kena wajah saya, saya kaget dan mulai memberi konsekuensi. Saya keluarkan dia dari kamar dan mengatakan adek kena konsekuensi. Saya tau mungkin karena dia cemburu merasa terabaikan mulai mencari perhatian, namun sikapnya yang melempar barang beberapa kali perlu di ingatkan lagi dan lagi.

Dia menangis dan ayah yang lagi sibuk lihat hp turun tangan, bertanya, “ngopo iki anake dikeluarkan dari kamar” sambil membuka kamar. Si adek sudah menangis. Saya yang tersakiti karena sempet bengkak bagian wajahnya diam saja. Daripada ngomel ga tau ujungnya. Akhirnya mbarep yang jadi juru bicara. Diceritakan begini begitu. Acara mau tidur dengan damai pun kisruh dengan tangisan. Akhirnya saya mengalah (ya iyalah harus, hehe).

“Ade mau apa sih? “Ade mau meluk ummi”, disela tangisnya , “tapi kok malah melempar botol?” tanyaku. Dia ga bisa menjelaskan, akhirnya saya memintanya mengatakan “maafkan ade ya mi” , dia segan, saya tau anak saya satu ini masih belum mau bilang maaf, dia diam saja sambil sesenggukan memikirkan kata kata saya. Pada akhirnya dia mulai mau mengatakan kali pertama, “Maafkan ade ya mi” lirihnya. Saya lalu peluk dirinya erat erat sepenuh hati membisikkan kata sayang.

Mas-nya akhir menarik nafas dan menghembuskan memahami yang terjadi, dan empati buat adiknya luar biasa, dia yang menenangkan dan terlihat sedih juga kalau adeknya menangis.

“We learning everyday and always found something new if we pay attention” -Warassari-

Tips Cantik Lainnya

Masukkan komentarmu

Alamat email kamu nggak akan dipublikasikan.Wajib diisi

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Post Navigation