Yuk Kenali Gejala Anak ADHD (1)

Anak-Hiperaktif

Seringkali kita melihat anak yang sulit memperhatikan, melakukan tindakan impulsif, tidak dapat berkonsentrasi dan sulit mengikuti instruksi meskipun telah diberikan penjelasan berulang kali. Mungkin kita harus mulai waspada jika gejala tersebut terjadi pada anak-anak yang ada di sekitar kita. Jangan-jangan anak-anak tersebut mengalami ADHD.

ADHD atau Attention Deficit/Hyperactivity Disorder sering dikira sebagai kelainan mental seperti retardasi mental, borderline bahkan autisme. Pengidap ADHD juga sering dikira sebagai anak nakal, bodoh dan ceroboh. Padahal ADHD adalah gangguan perilaku yang ditandai dengan berkurangnya perhatian, aktivitas berlebihan, dan perilaku impulsif yang tidak sesuai dengan usianya. Anak dengan ADHD sering mengalami gangguan akademis dan interaksi sosial dengan teman. Seringkali pula ditemukan kasus keterlambatan bicara dan berbahasa. Jika ADHD tidak segera ditangani dan dibiarkan menetap hingga dewasa, dapat menimbulkan masalah serius karena remaja ADHD seringkali terlibat dalam penggunaan obat terlarang dan narkotika.

ADHD disebabkan oleh beberapa penyebab. Berikut ini beberapa penyebab ADHD:
1. Kelainan anatomi otak
Otak anak-anak dengan ADHD berbeda dengan struktur otak anak-anak pada umumnya. Pada anak ADHD, neurotransmitter yang disebut dopamin tidak dapat berfungsi sehingga menyebabkan kurang konsentrasi, impulsif dan agresif.

2. Genetik
Orangtua yang mengalami kelainan serupa dimungkinkan untuk mewariskan kelainan tersebut pada keturunannya. Satu dari 4 anak ADHD memiliki kerabat dengan kasus serupa.

3. Faktor Ibu
Ibu yang merokok, mengkonsumsi alkohol, obat lain, kokain, terpapar racun polychlorinated biphenyls ketika sedang hamil berpotensi untuk melahirkan anak dengan ADHD.

Jumlah penderita ADHD di seluruh dunia sendiri diperkirakan sekitar 4-12 %. Skrining atau pemeriksaan terhadap anak usia sekolah penting dilakukan sehingga ADHD yang dikenali sejak dini dapat dilakukan perawatan dan pengobatan yang tepat agar menjadi lebih baik. Deteksi dini ADHD dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan terhadap gejala-gejala yang tampak, baik itu gejala inatensi, gejala hiperaktivitas dan gejala impulsivitas. Penegakan diagnosis penderita ADHD dilakukan dengan mengkombinasikan keterangan dari riwayat penyakit, riwayat pemeriksaan medis dan observasi terhadap perilaku anak yang diperoleh dari orangtua, guru maupun anak sendiri.

Selain kombinasi penegakan diagnosis tersebut, diperlukan juga sejumlah pertimbangan untuk menegakkan diagnosis yaitu:
1. Observasi terhadap anak
Observasi terhadap anak dilakukan pada saat anak melakukan tugas di kelas atau ketika sedang bermain bebas dengan anak yang lainnya.

2. Gangguan fungsi mental tersebut harus disesuaikan dengan usia perkembangan anak dan mempunyai pembanding dengan fungsi normal pada anak lain yang masih sebaya.

3. Gejala gangguan fungsi tersebut harus tampak ketika anak berada di rumah, sekolah dan ketika bermain dengan temannya. Jika ternyata gejala hanya muncul di satu lingkungan dan tidak muncul di lingkungan yang lain, maka biasanya anak bukan mengalami ADHD.

Tips Cantik Lainnya

Masukkan komentarmu

Alamat email kamu nggak akan dipublikasikan.Wajib diisi

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Post Navigation