Menjadi Wanita Karir Atau Ibu Rumah Tangga?

Wanita seringkali dilema antara menjadi ibu rumah tangga atau berkarir. Menurut kodratnya, seorang wanita seharusnya mengelola rumah tangga dengan baik seperti merawat suami dan anak-anaknya serta mendidiknya, memastikan rumah dalam keadaan bersih dan menyenangkan, serta memastikan kecukupan gizi keluarga. Tapi seiring dengan kemajuan zaman, pendidikan tinggi yang diperolah wanita membuatnya ingin unjuk gigi dalam karir.

Pendapat Pria
Sebagian besar pria pasti setuju bila istrinya menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Hal ini bukan karena ego pria yang tinggi, lho sist. Coba deh dipikirkan baik-baik. Jika istri bekerja di luar, lalu untuk apa suami bekerja? Siapa yang mengurus rumah? Pembantu rumah tangga? Percaya deh, suami akan lebih senang makan masakan istrinya yang dibuat dengan penuh cinta sekacau apapun rasanya daripada masakan pembantu yang enak.

Pria juga menganggap akan lebih aman jika anak-anak mereka dididik dan dilindungi oleh istri mereka sendiri daripada oleh seorang pembantu atau baby sitter berpengalaman sekalipun. Bagaimanapun pendidikan paling mendasar seorang anak memang seharusnya berasal dari ibu.

Pendapat Wanita
Jika wanita tersebut berpendidikan tinggi, biasanya cenderung untuk memilih menjadi wanita karir. Mereka menganggap terlalu sayang jika “ijazah” mereka hanya menganggur di rumah tanpa digunakan. Belum lagi anggapan bahwa istri bekerja untuk menambah uang belanja. Padahal, taukah sista bahwa berapapun pemasukan yang diterima oleh seseorang itu tidak akan pernah cukup jika dia tidak pandai mengelolanya. Sebaliknya, berapapun penghasilan seseorang asal dia mengelola keuangan dengan baik, maka akan tercukupi kebutuhannya.

Namun terkadang ada juga wanita yang berkarir karena ego. Dia tidak ingin kedudukannya ada di bawah suami. Oleh karenanya, wanita ini memilih untuk bekerja agar tidak kehilangan “harga diri” di mata suami. Padahal, menjadi ibu rumah tangga tidak membuat kita kehilangan harga diri lho, sist. Jangan malu jadi ibu rumah tangga, sista akan merasakan betapa bahagianya saat putra-putri sista berkata dengan bangga, “aku diantar mama ke sekolah lho…”.

Sukses Keduanya
Bagaimana jika suami dan istri sama-sama tidak mau mengalah? Mencegah memang lebih baik daripada mengobati. Bicarakan hal ini jauh-jauh hari sebelum sista menikah dengan pasangan. Tapi jika saat menikah salah satu pihak berubah pikiran, maka solusinya adalah mencari jalan tengah. Sista bisa mencari pekerjaan yang tidak membuat sista lama-lama meninggalkan rumah. Sebut saja bisnis online, menulis cerita, menjahit, memberikan les privat, atau berjualan kue di rumah.

Jangan sepelekan pekerjaan-pekerjaan di atas lho, sist. Jika dikerjakan dengan serius, pekerjaan di atas juga bisa mengusir kejenuhan sekaligus menghasilkan. Sekedar mengingatkan bahwa masa emas pertumbuhan dan pendidikan anak adalah saat usia 0-6 tahun. Sista tentu nggak mau kan kehilangan kesempatan untuk memberikan yang terbaik saat pendidikan dan pertumbuhan buah hati sista? Kalaupun sista benar-benar ingin berkarir di luar rumah, setidaknya bersabarlah sampai anak-anak sudah cukup usia untuk sista tinggal bekerja.

1 thought on “Menjadi Wanita Karir Atau Ibu Rumah Tangga?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *